Senin, 26 November 2007

Satu Pria Dua Wanita (1)

Sekarang, setelah semuanya siap, Hasanah akan duduk disinggasana kebahagiaan; membayangkan dirinya telah menggoreskan masa depan yangkan penuh dengan keceriaan.Saat ini, para tamu telah dan Hasanah telah berhasil mewujudkan cita-citanya: tepuk tangan meriah para tamu yang mengiringi upacara penyematan cincin dambaan hati dijarinya.Kini, Hasanah berhasil menanamkan keyakinan dihatinya bahwa ia akan merajut kehidupan rumah tangga nan bahagia dengan benang emas.
Sekarang, para tamu undangan telah kembali kerumahnya masing-masing, setelah memuji sang mempelai perempuan dan pasangannya.
Kini, semuanya telah terjadi, termasuk sesuatu yang sangat menyakitkanku. Aku kembali kekamarku, berselimutkan rasa kesal yang kian memuncak. Aku sendirian dan terasing disini. Adakah sesuatu yang lebih menyakitkan ketimbang keterasingan diri? Siapakah sebenarnya yang lebih layak menanggung perlakuan seperti ini ketimbang aku, diantara keluarga dan teman-temanku?
Mereka sungguh keterlaluan, menuduhku telah mempermalukan mereka kemudian menjauhiku dengan dalih bahwa aku sudah menyeleweng. Tapi, bukankah mereka sendiri yang menyimpang? Tidakkah acara yang baru saja mereka langsungkan itu adalah sebentuk penyimpangan? Bukankah alur pemikiran yang menjadikan pernikahan sebagai poros-putar gerak kehidupan adalah menyimpang?
Ya, mereka semua telah tersesat. Bahkan Hasanah juga, yang mengira telah menemukan sebuah jalan yang baik bagi dirinya dan menjadikan dirinya suci. Bukankah menyimpang ketika ia setuju menikah dengan seseorang yang belum pernah dilihat, apalagi dikenal?
Mengapa seseorang tak mau repot, meski itu untuk menghadiri akad pernikahannya sendiri dan malah mewakilkan kepada ayahnya? Itu lantaran, ia juga seorang yang taat beragama, yang kurang lebih sama menyimpangnya dengan Hasanah. Kalau tak mau dikatakan menyimpang, mengapa ia sudi meninggalkan gadis-gadis Eropa nan cantik dan memilih seorang istri seperti Hasanah?
Sungguh, ia telah meninggalkan semua kesenangan dan kegemerlapan. Ia adalah seorang pemuda yang tampan. Ya, tampan dengan segenap kecukupan secara materi. Karenanya, keanehan apakah yang mendorongnya memilih Hasanah dan meninggalkan kemewahan Inggris? Memang, Hasanah tergolong tergolong cantik juga dan memiliki status sosial yang tinggi. Namun, aku tidak suka padanya. Aku tak dapat menduga nasibnya lantaran dipersunting laki-laki itu. Sekarang keduanya telah menikah dan mereka pasti takkan bahagia.
Begitulah, Rihab berbicara sendiri. Setelah itu, ia berusaha mencari kesibukan, mengambil sebuah buku cerita yang ditulis oleh Najib Mahfudh. Judul buku itu adalah La Syai-a Yuhimmun(Tak Sesuatupun Yang Penting). Ia mulai membaca buku itu dan berusaha membenarkan bahwa tak sesuatupun yang dapat dianggap penting. Kemuliaan tidaklah penting, hati inipun tidak penting. Oleh karena itu, ia terkadang terlena membaca kisah yang ditulis untuk orang-orang sepertinya itu. Ia membaca buku itu hingga larut malam.
pertama
Pagi harinya, Rihab terlambat bangun. Dengan rasa malas yang menyelimut, ia bangkit dari tempat tidurnya. Sayup-sayup terdengar suara ibu dan saudarinya, memanggil dari kamar sebelah. Iapun keluar menemui mereka, memaksakan diri untuk tersenyum. Disitu, nampaklah Hasanah dengan raut muka yang berseri-seri dan berbinar; menggambarkan kebahagiaan. Itu membuat hati Rihab terbakar oleh dengki dan cemburu. Namun, ia berusaha menyembunyikan perasaannya itu dan segera menemui mereka, seolah-olah tak menyimpan oerasaan apa-apa.
Lantas, ia mengitari Hasanah sembari berkata, "Bagaimana kabarmu, wahai pengantin?"
Hasanah menjawab, "Baik, Alhamdulillah. Semoga engkaupun dipersunting dalam waktu dekat..."
Kata-kata itu seolah menyalakan api cemburu dan dengki pada diri Rihab. Ia pun menjawab dengan cemoohan, "Ya, ...Mudah-mudahan nanti ada seorang dari benua Afrika mengirimkan utusan untuk meminangku, sebagaimana seseorang dari benua Eropa yang telah mengirim utusan untuk meminangmu. Seperti, laki-laki sudah tidak ada lagi disini..."
Hasanah nampaknya tak ingin membuka perdebatan dengan adiknya itu. Ia menjawab singkat, "Adikku! Allah lebih tahu, mana yang terbaik."
Mendengar jawaban itu, Rihab tertawa mengejek seraya berkata, "Sungguh, aku tahu bagaimana membina masa depanku sendiri, Hasanah! Aku tak sepertimu yang menjalin hubungan dengan seseorang yang engkau sendiri tidak tahu-menahu tentangnya."
Saat itu, Hasanah melihat bahwa ia perlu menjawab ucapan tadi untuk membela pemikiran yang diyakininya. Ia berkata, "Bagaimana engkau dapat berkata bahwa aku tak mengenal sedikitpun, padahal aku tahu semua tentangnya. Cukuplah kalau dikatakan, dia seorang yang agamis."
Rihab kembali berkata, "Apakah agama segalanya, Hasanah? Engkau bukan orang tua...Aku khawatir, engkau kan menyesal lantaran terlambat menyadari kenyataan ini!"
Hasanah balik bertanya kepada Rihab, "Kenyataan apa yang engkau maksudkan?"
Rihabpun menjawab, "Contohnya saja pengantin baru, dihari-hari seperti ini seharusnya tak berpisah sesaatpun dengan kekasihnya, agar ia dapat mencegahnya menjalin hubungan dengan orang lain. Tidak seperti dirimu, yang duduk-duduk diruangan ini, sedangkan orang yang mempersuntingmu dan yang jiwamu telah kau serahkan padanya berada dipelukan penyanyi-penyanyi wanita."
Berusaha mengendalikan diri, Hasanah berkata, "Aku menyesal harus mengatakn bahwa engkau keliru, adikku. Aku tidak menyerahkan diriku kepada seseorang yang bergaul dengan para penyanyi wanita. Musthafa adalah seorang yang beriman dan istiqamah, tidak memalingkan kedua matanya kewajah para penyanyi wanita, walau sekalipun. Inilah yang mendorongku untuk menerimanya dengan senang hati dan tangan terbuka. Selama aku tahu ia memiliki kepribadian dan agama yang baik, maka aku meyakininya, baik ketika ia dekat maupun jauh. Sebab, itu merupakan hal yang selalu membentanginya, dimanapun ia berada, diMekah ataupun Paris."
Rihab berusaha menjawab kembali. Namun, ibunya ingin agar perdebatan itu dihentikan. Ia menengahi mereka berdua seraya berkata, "Sudah..., sudah...! Kalian berdua kan masih banyak pakerjaa, dan akan datang banyak tamu hari ini."
kedua
Hari demi hari dilalui Hasanah dengan penuh keceriaan, bila tak ada gangguan dari Rihab. Adapun Rihab, melalui hari-harinya dengan muram dan waktu terasa lambat baginya. Ia sangat marah lantaran Hasanah beoleh kebahagiaan dan ucapan selamat secara bertubi-tubi dari orang-orang, sementara ia sendiri tidak.
Setelah seminggu, tatkala pulang dari kerja, Rihab bertemu dengan petugas pos yang hendak mengetuk pintu rumah. Saat pegawai pos itu tahu kedatangan Rihab, ia menyerahkan sepucuk surat yang ditujukan kepada saudarinya, Hasanah. Dari cap pos yang tertera disurat itu, Rihab tahu bahwa surat tersebut berasal dari Musthafa. Ia pun menerima surat itu dengan tangan gemetar dan dengan semerta-merta memasukkannya kedalam tas. Ia masuk rumah dan tak memberitahukan itu kepada Hasanah. Setelah makan siang, ia bergegas kekamarnya. Disitu, dengan dorongan cemburu dan dengki dihati, ia membuka surat itu. Nampak didalamnya tulisan yang begitu indah, yang melambangkan kepribadian sipenulis. Ia mulai membacanya:
Dengan nama Allah yang Mahakasih dan Mahasayang
Cahaya hatiku, Hasanah, Wahai pilihanku, meski jauh dariku, inilah surat pertamaku.
Aku seolah telah hidup berdampingan denganmu, dihari-hari yang lalu, dengan berbagai kenangan yang hadir. Sebelumnya, aku menjalani hidup ini dengan angan-angan. Aku hidup sambil mendambakan kehadiranmu dan aku telah menjalani hidup ini dengan penuh kerinduan, setelah kuisi masa laluku dengan upaya untuk mendapatkanmu.
Sekarang, Allah SWT telah mewujudkan angan-anganku tatkala kutemukan pada dirimu harapan nan agung. Harapan yang ada padamu itu adalah harta karun yang tak ternilai harganya. Kutulis surat ini sembari berharap, semoga tulisan ini dapat menggantikan kehadiranku disisimu. Juga, agar aku dapat menceritakan keadaanku, yang mulai kini talah menjadi bagian dirimu.
Aku adalah seseorang yang mencintaimu hingga kelubuk hatiku, bahkan sebelum aku bertamu denganmu. Sebab, aku tahu bahwa engkau menyukai apa yang aku suka dan meyakini apa yang kuyakini. Aku orang yang benar-benar tulus kepadamu sejak pertama kali kita menjalin hubungan nan suci ini. Sebab, hubungan ini tak mungkin sempurna bilamana engkau tak tulus pada agamamu dan engkau tak menerimaku lantaran itu.
Aku adalah orang yang telah menemukan pendamping hidup, yang memiliki ruh dan pikiran yang sejalan, yang bebas dari hal-hal materi yang menipu. Karena semua itulah aku memilihmu, agar kita sama-sama membina kehidupan rumah tangga teladan, yang dihiasi iman dan doterangi cahaya al-Qur`an serta ditopang oleh pendidikan islami.
Semua itu adalah cinta, semua itu merupakan kasih sayang dan semua itu adalah keikhalasan dan kesetiaan. Keberadaanku seluruhnya, pertama, adalah untuk Allah. Dan, kedua adalah untukmu, selama keberadaanmu pun demikian; pertama untuk Allah dan kedua untukku. Semoga Allah memberikan keberkahan pada jalinan hubungan ruhani kita ini, menjaga cinta kita dengan penjagaan-Nya, serta mengukuhkan jalan kita agar dapat melangkah dijalan-Nya.
Sebagai penutup, sebenarnya aku ingin melanjutkan tulisan ini lebih dan lebih panjang lagi, karena begitu banyak hal yang ingin kusampaikan padamu. Namun, aku menunggu jawabanmu, agar aku dapat mengetahui juga perasaanmu disuratmu nanti, baik berupa surat singkat maupun panjang. Terimalah salam dan rasa cintaku, tetaplah bersama imanmu dan bersamaku selamanya.
Musthafa
NB: Terimalah fotoku yang aku sertakan bersama surat ini. Semoga engkau pun dapat mengirimkan fotomu secepat mungkin.
Selesai membaca surat itu, perasaan Rihab pun bertambah perih. Kata-kata indah yang tertulis didalamnya bak lautan api yang membakar habis jiwanya. Bisikan dengki dihatinya mendorongnya mengambil keputusan untuk tidak menyampaikan surat itu kepada Hasanah.
Sejak penerimaan surat itu, hari-hari Rihab dihabiskan dengan rasa sakit hati dan bingung. Ia sakit hati atas surat tersebut dan bingung lantaran memikirkan jalan keluar dari masalah yang dibuatnya sendiri. Tidak henti-henti ia membaca surat itu, dan setiap kali mengulanginya, semakin perih rasa sakit hatinya. Rihab berangan-angan, andai saja itu ditujukan kepadanya dan bukan kepada Hasanah!
Malam harinya, ketika jarum jam terus bergerak, rasa kantuk Rihab tak kunjung tiba. Ia termangu ditempat ditempat tidurnya dan kembali membaca surat Musthafa untuk yang kesepuluh kalinya. Ia berkata sendiri, "Tulisannya elok, wajahnya tampan, dan kata-katanya indah. Itu menunjukkan jiwa sipenulis jauh lebih indah. Hasanah pasti sangat gembira bila surat ini sampai ketangannya. Tak ragu, ia akan bahagia saat menerimanya. Sungguh, kebahagiaannya tak menyenangkankusedikitpun..."
Hingga disitu, Rihab ingin segera merobek surat itu, agar tak sampai ketangan Hasanah untuk selamanya. Namun, sebelum merobeknya, ia kembali tercengang dan mengurungkan niatnya, "Tidak, aku tidak akan merobek surat ini, tapi aku akan membakarnya. Dengan begitu, aku akan menikmati kobaran api yang melahap tulisan-tulisan agamisnya ini..."
Kemudian, ia bangkit dan berjalan kearah lemari, membuka pintunya, dan mencari-cari lilin didalamnya. Akhirnya, ditemukan disitu beberapa potong lilin kecil dengan beragam warna, berpitakan warna emas dengan tulisan: Selamat ulang tahun, semoga panjang umur, selalu bahagia, dan tetap beriman...
Rihab pun tertawa sinis. Ia mengambil sebatang sembari berkata, "Indah sekali..., aku akan membakar surat Musthafa dengan lilin yang diberikan Hasanah padaku. Ya, benar, inilah salah satu diantara beberapa lilin mungil yang pernah diberikannya padaku, dihari ulang tahunku yang ke-18. Hingga sekarang, liln ini tetap tersimpan rapi dilemari, menunggu saat digunakan untuk membakar surat Musthafa, termasuk membakar rasa bahagia dan rasa senangnya..."
Rihab meletakkan lilin itu diujung meja. Kemudian, ia mengambil surat itu dan mendekatkannya keapi. Disitu, kembali terlintas dibenaknya, "Apa gunanya aku membakar surat ini? Sebab, Musthafa pasti akan mengirimkan surat kedua dan ketiganya. Tak mungkin aku selalu secara kebetulan berada didepan rumah dan bertemu dengan pegawai pos, setiap kali ia mengantarkan surat-surat itu. Kalau begitu, hanya membakar surat ini saja, tidak akan menyelesaikan masalah..."
Oleh karena itu, ia berpikir sejenak. Dengan cepat, ia menemukan ide baru. Ia akan membalas surat untuk Musthafa, seolah itu surat dari Hasanah. Disitu ia akan berusaha untuk menghancurkan kepercayaan Musthafa kepada Hasanah. Ia nanti juga akan membubuhkan alamat lain yang bukan alamat rumahnya. Ini tentu tidaklah sulit. Sebab, dengan mudah ia dapat menggunakan nama dan alamat temannya.
Sekarang, tekadnya telah bulat untuk melaksanakan ide tersebut. Kalau begitu, ia harus menyimpan baik-baik surat itu, karena mungkin ia perlu merujuk pada tulisan yang didalamnya.
Rihab kembali kekamarnya, duduk dikursi, dan mulai menulis surat untuk Musthafa:
Yang Terhormat Musthafa
Suratmu telah kuterima diiringi ucapan terima kasih. Aku kagum melihat gaya bahasamu yang terpelajar dan kata-katamu nan lembut. Namun, adalah lebih baik bila engkau menulis surat tersebut dengan singkat. Sebab, aku tak suka menulis panjang lebar...
Adapun yang telah engkau katakan bahwa suratmu merupakan pengganti dari perjumpaan kita, itu adalah khayalan belaka yang terkadang terlintas pada diri seseorang yang biasa berkhayal, agar kerinduan temannya terpuaskan. Bila bukanuntuk itu, maka untuk apa ia menulis surat? Namun, mungkinkah temannya tercukupi dengan itu?
Selama ini, aku tak tahu dimana engkau, bagaimana keadaaanmu, hidup dengan cara apa atau dengan siapa engkau hidup? Sebab, engkau sekarang berada ditempat glamor, yang dipenuhi dengan seluruh gemerlap dan kesenangan hidup. Karena itu, aku pun bertanya-tanya, apa yang kan kau sisakan untukku? Lantas, tidakkah engkau tahu bahwa gaya hidup seperti itulah yang kudambakan untuk menghidupkan agama ini. Adapun cara yang kau sebutkan dalam suratmu itu, kupikir itu sudah tidak berguna lagi...
Tak terhitung, betapa banyak persaingan antar kelas sosial dalam sebuah masyarakat, atau kelompok-kelompok zalim yang memanfaatkan kedudukan dan pengetahuannya, sebagaimana disana juga terdapat sekelompok orang-orang lemah yang dimanfaatkan. Namun, semua itu mengajak kita kemudian untuk menemukan sisi kezaliman pada juru selamat dan mencari secercah cahaya pada kezaliman.
Kemudian, kita takkan mampu mendapatkan juru selamat lantaran kokohnya bangunan kezaliman. Begitu juga, kita tak mungkin dapat memberikan petunjuk menuju cahaya lantaran begitu pekat dan legamnya kegelapan ini. Karena itu, kita tak dapat mengkhayalkan hal tersebut, kecuali satu alternatif saja, yaitu dengan bantuan Yang Mahakuat. Dia lebih tinggi dan lebih kuat dari kezaliman itu sendiri. Setelah itu, kita dapat mulai memberikan inspirasi kepada diri kita khayalan akan kekuatan tersebut dan menantinya untuk menyelesaikan masalah-masalah serta mengangkat penderitaan-penderitaan kita.
Inlah yang menyebabkan para pakar membangun pemikiran tentang keimanan kepada Tuhan dan menciptakan agama. Oleh karena itu, tidaklah engkau meliahat bahwadiriku tak memerlukan apapun dari yang engkau sebutkan, setelah manusia tahu bagaimana cara mewujudkan keadilan dimaksud.
Begitulah, aku mohon maaf bila aku telah mendebatmu dengan pemikiran yang tak sesuai dengan pemikiranmu. Sebab, aku adlaah orang yang suka berterus-terang dan aku juga suka bergaul dengan orang lain secara terang-terangan. Salam sejahteraku untukmu selalu.
Hasanah
NB: Aku harap, engkau mengirimkan surat balasan dan semua surat-suratmu ke alamat ini:a.n. Anisah Miyadah Naji, Mudiriyyah Rai-Qismul Ihsha`.
Rihab bergegas mengeposkan surat itu kealamat yang telah diterkan Musthafa pada suratnya. Dihatinya tergores sedikit rasa sesal lantaran surat itu pasti dapat menghancurkan kebahagiaan kakanya. Akan tetapi, rasa dengki yang kuat mendorongnya untuk tetap mengirimkan surat itu dan tak peduli dengan rasa ibanya. Setelah itu, ia tinggal menanti hasil usahanya.

Tidak ada komentar: