Minggu, 22 Juni 2008

Menembus Barisan Malaikat

Al-Syahid al-Tsalits Akhund Mulla Muhammad Taqi dalam 2 kitabnya Khashaish Fathimah dan Majalis al-Muttaqin dalam bab-36 meriwayatkan bahwa pada suatu, Ali menemui Fathimah yang sedang dalam keadaan kurang sehat, sehingga mengharuskannya terbaring ditempat tidur. Beliau lalu memegang kepala Fathimah seraya berkata, "Wahai Fathimah, katakanlah apa yang engkau inginkan?"
Fathimah berkata, "Saya tidak menginginkan sesuatu, wahai putra pamanku."
Ali mendesak Fathimah agar sedia mengutarakan keinginannya. Namun Fathimah menyatakan, "Sungguh ayah telah berwasiat kepada saya agar saya tidak meminta dari anda sesuatu yang barangkali anda tidak mungkin menyediakannya, sehingga anda akan merasa malu."
Ali kemudian bersumpah atas nama Fathimah, agar sedia mengutarakan keinginannya kepadanya. Maka, Fathimah berkata, "Karena anda telah sbersumpah atas saya, saya akan katakan; jika mungkin mendapatkan delima, itu akan bermanfaat bagi saya."
Ali lalu bangkit dan meninggalkan rumah untuk memperoleh delima. Ketika beliau bertanya kepada para sahabatnya, mereka berkata bahwa musim delima telahberlalu dan tak ada yang memilikinya kecuali Syam'un, seorang Yahudi, karena orang2 telah mengirimkan delima dari Thaif, beberapa hari sebelumnya kepada Syam'un.
Ali bergegas menuju rumah Syam'un dan mengetuk pintu, dan ketika melihat Ali, dia berkata, "Wahai Ali, apa gerangan yang telah mengundang anda untuk memuliakan kami dengan kedatangan anda kerumah kami?"
Ali menjawab, "Aku dengar engkau memiliki buah delima, karena itu aku datang untuk membelinya darimu satu buah untuk seseorang yang sakit dan dalam tanggunganku."
Syam'un berkata, "Sungguh, saya telah menjual semuanya dan sekarang tak ada lagi yang tersisa."
Ali berkata, "Lihat dan carilah, barangkali masih tersisa satu, tetapi engkau tidak mengetahuinya."
Kembali Syam'un berkata, "Saya tahu yang ada dirumah saya dan sudah tidak ada lagi delima satupun."
Ketika itu, istri Syam'un berdiri dibelakang pintu dan mendengarkan pembicaraan suaminya dengan Ali. Kemudian istri Syam'un berkata padanya, "Sesungguhnya, aku telah menyimpan satu delima dan menyembunyikannya dibawah dedaunan tanpa sepengetahuanmu."
Istri Syam'un lalu mengambil delima tersebut dan menyerahkan kepada Ali, kemudian Ali membayar delima tersebut sebesar 4 dirham, namun Syam'un berkata kepada Ali, "Sesungguhnya harga satu delima hanya 1/2 dirham, uangmu kelebihan, ya Ali."
Ali pun berkata, "Sungguh, aku telah menyimpan dirham ini untuk seorang perempuan sebagai kebanggaan; barangkali aku dapat memanfaatkannya suatu hari. Karena itu, jadikanlah dirham2 ini menjadi menjadi 3 bagian dan separuh sisanya untuk istrimu."
Diperjalanan, Ali mendengar suara sangat lemah, beliau lalu mengikuti suara itu hingga kesebuah reruntuhan. Disitu tergeletak seorang lelaki buta yang sedang kesakitan; kepalanya tergeletak ditanah dan kondisinya sangat lemah. Ali kemudian duduk disebelahnya dan mengangkat kepala orang buta tersebut dan meletakkannya dipangkuannya.
Ali bertanya, "Wahai lelaki, siapakah engkau dan dari kabilah mana serta sejak kapan engkau sakit?"
Laki2 itu menjawab, "Wahai pemuda yang saleh, aku adalah seorang lelaki diantara orang2 yang berhutang, hutang2 telah membebaniku dan aku tak menemukan jalan keluar agar bisa mengendarai sesuatu sehingga dapat pergi kekota. Aku berkata kepada diriku sendiri bahwa aku harus datang kepada kekasihku, Ali bin Abi Thalib. Karena aku berharap dirinyalah yang akan sedia menyelesaikan masalahku dan membayarkan hutang2ku."
Ali kemudian berkata, "Apa yang engkau inginkan sekarang?"
Dia menjawab, "Sekiranya mungkin mendapat buah delima, aku akan suka sekali ."
Ali pun berkata, "Aku telah membawa sebuah delima untuk seseorang yang mulia yang sedang sakit, tapi aku akan memberimu separuh dari delima ini."
Kemudian, Alipun membelah delima tersebut dan menyuapkan biji2 delima itu satu persatu hingga habis separuhnya. Lelaki buta itupun berkata, "Jika engkau berkenan atas bagian paruh yang keduanya, mungkin akan lebih membaikkan keadaanku."
Ali kemudian menyuapkan kembali separuh delima yang dia bawa kepada lelaki buta tersebut hingga habis, dan kemudian ia kembali kerumah dengan tangan kosong dan malu tanpa membawa buah delima yang dipesankan Fathimah. Sesampai didepan rumah ia tidak langsung untuk masuk kerumah, namun melihat dari sela2 lobang pintu terhadap keadaan fathimah. Ali melihat Fathimah sedang duduk bersandar, sementara dihadapan fathimah terdapat sepiring delima yang tengah dimakan oleh Fathimah. Dengan kebahagiaan yang tak terkira, Ali memberi salam dan membuka pintu serta masuk kerumah, walaupun ada rasa malu karena tidak mampu membawakan apa yang diinginkan Fathimah dari tangan atau usahanya. Setelah dekat, Ali pun menanyakan asal muasal delima tersebut kepada Fathimah.
Fathimah pun menjawab, "Wahai putra paman, lama sekali anda meninggalkan rumah, hingga anda berkeringat begitu rupa. Saya mendengar daun pintu diketuk orang, kemudian Fidhdhah membuka pintu dan ada seorang lelaki yang membawa sepiring buah delima, dan kata beliau, delima yang ia bawa tersebut atas perintah anda untuk mengirimkan kepadaku. Terimakasih, wahai putra pamanku, anda telah bersusah payah untuk memenuhi keinginanku."
Kisah Fathimah az-Zahra (360 Fadhail mashaib wa Karamat-e Fatimaeh Zahra) ; Hal: 207 - 212 (420 halaman) ; Karya: Abbas Azizi
Penerbit; Penerbit Cahaya (Qorina)

Jl. Siaga Dharma VIII, no; 32E
Pasar Minggu-Jakarta Selatan
Telp: 021-7987771 (08121068423)
Fax: 021-7987633
Email; pentcahaya@centrin.net.id

Sabtu, 21 Juni 2008

Cambuk Sang Naga

Setelah menyampaikan khutbah berkenaan dengan perampasan tanah Fadak, putri Rasulullah saw pulang kerumahnya, sementara Ali menunggunya dirumah. Dan setelah bertemu dengan Ali, Fathimah berkata padanya.
"Wahai putra Abu Thalib, kau selubungi diri bak janin dalam perut, kau tarik tirai dan menutup diri dengannya. Dan seperti orang yang trtuduh, kau duduk disudut rumah dan menyendiri. Engkau adalah orang yang sebelum ini berjuang dimedan perang dan membinasakan para pemberani serta ksatria perang. Sekarang, apa yang terjadi? Sayap2 burung tak lagi berbulu, rontok diatas kepalamu, dan membuatmu menderita.
Begitulah, putra Abu Quhafah(Abu Bakar) telah merampas pemberian ayahku dari tanganku dan mengambil simpanan makanan anak2ku. Dengan terang2an, dia telah memerangiku. Perkara ini telah sampai pada suatu taraf dimana kaum Anshar enggan memberikan pertolongannya kepadaku dan kaum Muhajirintelah memutuskan tali persaudaraannya. Orang2 telah menutup mata mereka dariku. Tiada yang berani mencegah kejahatan Abu Quhafah, tiada pula yang bersedia melindungi dan membelaku. Aku keluar dari rumah dalam keadaan marah dan pulang dalam keadaan terhina. Engkau juga telah menjatuhkan dirimu dalam kehinaan dan menggunakan kekuatanm. Engkau telah memangsa para serigala dan membentangkan tanah. Aku tak mampu menahan diri untuk tidak bicara dan aku belum keluar dari pintu kebatilan. Namun, aku tak punya kekuatan untuk menegakkan kebenaran. Andai saja aku meninggal sebelum peristiwa ini dan tak melihat diriku terhina! Sekarang, aku meminta maaf kepada Allah; dari-Nya perhitungan dan darimu perlindungan. Ah....aku meratap setiap kali matahari terbit dan aku juga meratap setiap kali mentari terbenam! Tempat perlindunganku(Rasulullah saw) telah meninggal dunia. Aku sampaikan keluhanku ini kepada ayahku dan menuntut keadilan Tuhanku. Ya Allah! Sesungguhnya Engkau lebih kuat dan perkasa dari mereka, dan azab serta siksa-Mu lebih pedih...."
Kemudian Ali berkata, "Tiada cela bagimu, namun kecelakaanlah bagi orang yang menghinamu. Janganlah engkau marah kepadaku, wahai putri kesucian dan warisan kenabian! Aku tidak melemahkan agamaku, tidak pula melangkah melebihi batas kemampuanku. Jika engkau menghendaki makanan yang memadai, maka rezekimu telah terjamin, dan penjaminmu adalah Tuhan yang Maha Dipercaya. Apa yang dipersiapkan-Nya untukmu jauh lebih utama ketimbang apa yang apa yang dijauhkan-Nya darimu. karena itu, ucapkanlah; 'Hasbiyallahu(cukuplah Allah sebagai penolongku)!'"
Lalu Fathimah berucap, "Hasbiyallahu," dan terdiam.
Kisah Fathimah az-Zahra (360 Fadhail mashaib wa Karamat-e Fatimaeh Zahra) ; Hal: 340 - 343 (420 halaman) ; Karya: Abbas Azizi
Penerbit; Penerbit Cahaya (Qorina)

Jl. Siaga Dharma VIII, no; 32E
Pasar Minggu-Jakarta Selatan
Telp: 021-7987771 (08121068423)
Fax: 021-7987633
Email; pentcahaya@centrin.net.id

Genta Bidadari

Kalian menganggapku tak memiliki hak waris. Apakah kalian menghendaki berlakunya kembali hukum jahiliah? Bagi orang yang meyakini kebenaran Allah, tidak ada hukum yang lebih baik selain hukum Allah. Tidakkah kalian tahu bahwa aku ini putri Muhammad saw?"
Hai Anak Abu Quhafah(Abu Bakar), apakah dalam kitab Allah terdapat ketentuan bahwa engkau boleh mewarisi milik Allah, sementara aku tidak boleh mewarisi milik ayahku? Sungguh, engkau telah mengadakan sesuatu yang tidak benar. Apakah kalian sengaja hendak meninggalkan kitab Allah atau ingin menaruhnya dibelakang punggung kalian? Padahal, al-Quran dengan jelas menegaskan bahwa,"Nabi Sulaiman mewarisi Nabi Dawud." (al-Naml; 16)?
Khususnya, mengenai berita tentang Nabi Yahya, putra Nabi Zakaria, al-Quran juga telah menegaskan;
"Ya Allah, berilah aku disisi-Mu seorang penerus yang akan mewarisiku dan mewarisi keluarga Ya'qub." (Maryam; 5-6)
"Selain itu, Allah menegaskan; orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak atas sesamanya didalam kitab Allah." (al-Anfal; 75)
"Allah telah mensyariatkan bagimu tentang pembagian warisan untuk anak-anakmu. Yaitu bagian seorang anak laki-laki sama sengan 2 bagian anak perempuan." (al-Nisa; 11)
"Jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiatlah untuk ibu-bapak dan karib-kerabatnya secara baik-baik, ini adalah kewajiban atas orang-orang yang bertakwa." (al-Baqarah; 180)
Namun, sekarang kalian menganggap aku ini tidak memiliki hak waris atas pusaka ayahku dan aku dipandang tidak mempunyai hubungan kekeluargaan dengan ayahku. Adakah sebuah ayat yang dikeluarkan dari al-Quran, oleh ayahku, khusus untuk kalian? Ataukah kalian hendak mengatakan bahwa dua orang yang memeluk agama berbeda tidak boleh saling mewarisi? Bukankah aku dan ayahku memeluk agama yang sama? Apakah kalian merasa lebih mengerti tentang ayat2 khusus dan umum al-Quran dibandingkan dengan ayahku, ibuku(Khadijah), dan anak pamanku(Ali)?
Kalau memang demikian sikap kalian, apa yang harus aku katakan. Biarlah kelak Padang Mahsyar yang akan menjumpai kalian. Sebaik2 hakim adalah Allah. Sebaik2 pemimpin adalah Muhammad saw. Sebaik2 hari perjanjian adalah hari Kiamat. Ketika itu, orang2 yang berbuat batil akan merugi, dan penyesalan dikemudian hari tidak akan berarti.
"Setiap berita yang disampaikan seorang rasul pasti akan tiba saat kejadiannya, dan kelak kalian akan mengetahuinya." (al-An'am; 67)
"Siapa-siapa yang bakal terkena siksa yang mengerikan dan tertimpa azab yang kekal." (Hud; 39)
Kisah Fathimah az-Zahra (360 Fadhail mashaib wa Karamat-e Fatimaeh Zahra) ; Hal: 335 - 338 (420 halaman) ; Karya: Abbas Azizi
Penerbit; Penerbit Cahaya (Qorina)

Jl. Siaga Dharma VIII, no; 32E
Pasar Minggu-Jakarta Selatan
Telp: 021-7987771 (08121068423)
Fax: 021-7987633
Email; pentcahaya@centrin.net.id

Kamis, 19 Juni 2008

Rasulullah Bertanam

Imam Ja'far al-Shadiq(Imam ke-6) menuturkan:
Rasul Mulia saw dan kaum muslimin kembali dari sebuah peperangan dan singgah disebuah rumah serta merasakan makanan mereka. Malaikat Jbril as pun turun dan berkata, "Hai Muhammad, bangkitlah dan naiki kendaraanmu!"
Rasulullah saw menaiki kendaraannya, sementara malaikat Jibril as masih bersama beliau. Dengan menggunakan kemampuan berpindah tempa dalam waktu sekejap, beliau telah sampai di Fadak. Tatkala penduduk Fadak mendengar kedatangan penunggang kuda menuju mereka, penduduk Fadak menyangka itu sebagai serangan musuh. Merekapun ketakutan. Karenanya, mereka menutup pintu2 kota dan menyerahkan kunci2nya kepada seorang wanita tua yang tinggal diluar kota. Lalu, mereka berlindung diatas bukit2.
Malaikat Jibril lalu menemui sang wanita tua dan mengambil kunci2 itu darinya. Setelah itu, dia membuka pintu gerbang kota dan mengantarkan Rasulullah saw kerumah2 penduduk. Malaikat Jibril as berkata, "Hai Muhammad, Allah menjadikan tempat ini untukmu. Lantaran kaum muslimin tidak ikut berperang bersamamu, Dia memberikan tanah ini untukmu."
Malaikat Jibril lalu mengajak Rasulullah saw mengelilingi rumah2 penduduk Fadak dan menutup semua pintunya, setelah itu menyerahkan kunci2 tersebut kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw lalu meletakkan kunci2 itu kedalam sarung pedang beliau. Kemudian, beliau menunggang kudanya dan kembali pada para sahabatnya dimana beliau meningalkan mereka dengan waktu sekejap.
Rasulullah saw berkata, "Saya telah pergi ke Fadak dan Allah memberikan wilayah itu untukku. Inilah kunci2nya."
Setelah itu, mereka menunggangi kendaraan masing2 dan pulang ke Madiah. Rasul Mulia saw menemui Sayyidah Fathimah dan berkata, "Putriku, Allah memberikan tanah Fadak kepada ayahmu ini. Tanah itu dikhususkan untuk ayahmu dan kaum muslimin tak beroleh bagian atasnya. Sebab, aku berhutang maskawin kepada ibumu, maka, aku berikan tanah Fadak itu untukmu sebagai ganti maskawin ibumu. Pergunkanlah tanah itu untuk menghidupi diri dan anak2mu."
Kemudian Rasulullah saw meminta sehelai kulit kepada Ali, dan bekata, "Tulislah; Rasulullah saw memberikan tanah Fadak kepada putrinya, Fathimah."
Ali menjadikan budak Rasulullah saw dan Ummu Aiman sebagai saksi atas peristiwa tersebut. Penduduk Fadak berdamai denga membayar pajak sebesar 24 ribu dinar pertahun.
Kisah Fathimah az-Zahra (360 Fadhail mashaib wa Karamat-e Fatimaeh Zahra) ; Hal: 335 - 338 (420 halaman) ; Karya: Abbas Azizi
Penerbit; Penerbit Cahaya (Qorina)

Jl. Siaga Dharma VIII, no; 32E
Pasar Minggu-Jakarta Selatan
Telp: 021-7987771 (08121068423)
Fax: 021-7987633
Email; pentcahaya@centrin.net.id

Rabu, 18 Juni 2008

Hidangan Pengganti

Dalam kitab Kasyfu al-Ghummah al-Amali karya Syaikh Thusi, dan tafsir al-Furat karya Ibnu Ibrahim, disebutkan sebuah riwayat dari Abu Sa'id al-Khudri;
Ali bin Abi Thalib; "Apakah engkau ounya sesuatu yang bisa aku makan?" tanyanya kepada Sayyidah Fathimah.
Fathimah; "Demi Allah yang memuliakan ayahku dengan kenabian dan menjadikanmu sebagai washi(pengemban wasiat) Nabi-Nya, pagi ini aku tidak memiliki makanan apapun yang bisa dimakan. Bahkan sudah 2 hari ini, kita tidak punya apa2 untuk mengganjal perutku dan perut ke-2 anakku ini."
Ali bin Abi Thalib; "Wahai Fathimah! Mengapa selama 2 hari ini tidak kau beritahukan hal ini padaku sehingga aku dapat mencarikan makanan untukmu?"
Fathimah; "Wahai Abul Hasan! Aku malu kepada Allah jika membebanimu dengan sesuatu yang tidak sanggup engkau tanggung."
Kemudian Imam Ali keluar rumah untuk meminjam uang kepada kenalannya. Pada saat hendak membeli makanan, tiba2 dia melihat Miqdad tengah berjalan dengan gelisah dibawah terik matahari.
Ali bin Abi Thalib; "wahai Miqdad! Apa yang membuat anda gelisah sehingga anda keluar rumah pada hari yang panas seperti ini?"
Miqdad; "Wahai Abul Hasan! Biarkan saya sendiri dan jangan halangi jalan saya. Juga, jangan anda tanya tentang keluarga yang saya tinggalkan dirumah."
Ali bin Abi Thalib; "Wahai saudaraku! Tidak sepantasnya bila anda sembunyikan keadaan anda dari saya."
Miqdad tetap meminta Imam Ali meninggalkannya sendirian. namun Imam Ali mendesaknya untuk berterus terang.
Miqdad; "Demi Allah, Tuhan Mahamulia yang mengutus Muhammad dengan kenabian dan memilih anda sebagai washi beliau! Tidak ada yang membuat gelisah seperti sekarang ini kecuali kepapaan saya. Saya telah meninggalkan keluarga yang sedang menangis karena kelaparan. Bila saya dengar tangisan mereka, bumi ini terasa goncang. Itulah kenapa saya pergi meninggalkan mereka dirumah."
Ali bin Abi Thalib; "Demi Tuhan yang anda bersumpah dengan menyebut asma-Nya, saya juga keluar rumah dengan alasan yang sama seperti anda. Baru saja saya meminjam uang satu dinar dan sekarang uang ini saya berikan pada anda. Saya lebih senang mementingkan keadaan anda ketimbang saya sendiri."
Kemudian Imam ali memberikan uang satu dinar itu kepada Miqdad. Beliau pulang dengan tangan hampa. Lantaran malu, Imam Ali mengurungkan niatnya pulang kerumah dan menuju masjid.
Disana, beliau mengerjakan shalat zuhur, ashar, dan maghrib bersama Rasulullah saw. Usai shalat maghrib, rasulullah saw lewat didepan Imam Ali yang duduk dibarisan pertama. Baliau saw memberi isyarat kepada Imam Ali dengan kakinya. Imam Ali pun berjalan mengikuti Rasulullah saw, hingga bertemu dipintu masjid. Dan menanyakan apakah Imam Ali memiliki sesuatu untuk dimakan bersama malam ini, Imam Ali hanya berdiam tanpa memberi jawaban . Dia benar2 malu kepada Rasulullah saw yang telah mengetahui sebab kepergiannya dari rumah.
Rasulullah saw; "Wahai Abul Hasan! Mengapa engkau tidak menjawab pertanyaanku? Jika engkau mengatakan 'tidak', aku akan pulang. Dan jikalau engkau mengatakan 'ya', aku akan datang kerumahmu."
Ali bin Abi Thalib; "Wahai Rasulullah saw, Rasa malu menghalangi saya menjawab pertanyaan anda."
Rasulullah saw; "Mari kita pergi bersama."
Rasulullah saw menggandeng tangan Imam Ali dan keduanya berjalan kaki hingga didepan rumah Sayyidah Fathimah. Saat, itu Sayyidah Fathimah sedang duduk ditempat shalatnya. Usai Shalat, Sayyidah Fathimah melihat mangkuk besar dihapannya yang dipenuhi makann dan masih mengepulkan asap.
Ketika mendengar suara ayahnya, Sayyidah Fathimah langsung keluar dari tempat shalatnya dan mengucapkan salam kepada Rasulullah saw. Setelah menjawab salam putrinya, Rasulullah saw meletakkan tangannya yang penuh berkah diatas kepala Sayyidah Fathimah seraya berkata;
Rasulullah saw; "Wahai putriku! Bagaimana keadaanmu malam ini? Semoga Allah merahmatimu."
Fathimah; "Malam ini saya dalam kondisi baik."
Rasulullah saw; "Hidangkanlah untuk kami sedikit makanan dimalam ini, semoga Allah merahmatimu saat ini dan selamanya."
Kemudian Sayyidah Fathimah mengambil mangkuk besar itu dan meletakkannya dihadapan Rasulullah saw dan Imam Ali. Ketika melihat hidangan tersebut, Imam Ali memandang Sayyidah Fathimah dengan penuh heran.
Fathimah; "Subhanallah! Mengapa anda memandang saya dengan rasa heran? Apakah saya telah melakukan kesalahan yang menyebabkan kemarahan anda?"
Ali bin Abi Thalib; "Saya heran, hari ini engkau bersumpah bahwa engkau tidak makan selama 2 hari dan tidak ada sedikitpun makanan. Sekarang, engkau menghidangkan makanan seperti ini dihadapan saya?"
Fathimah; "Tuhan langit dan bumi tahu bahwa sumpah yang saya ucapkan adalah benar." sambil memandang kelangit.
Ali bin Abi Thalib; "Wahai Fathimah! Dari mana engkau mendapatkan makanan ini? Saya belum pernah melihat jenis, warna, dan aroma makanan ini sebelumnya, serta belum pernah merasakan makanan yang lebih lezat dari makanan ini."
Rasulullah saw; "Wahai Ali! Makanan ini adalah ganti uang satu dinar yang engkau berikan kepada Miqdad. Inilah karunia yang datang dari sisi Allah sebagai balasan satu dinar itu. Allah memberikan rezeki kepada siapapun yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan." sambil meletakkan tangannya kepundak Imam Ali dan menggerak2kan pundak Imam Ali. "Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan kalian diatas bumi ini. Hai Ali, Allah telah memberimu kemuliaan seperti yang pernah diberikan-Nya kepada Zakaria, dan engkau, hai Fathimah, telah diberi kemuliaan seperti yang pernah Allah berikan kepada Maryam putri Imran." sambil menangis.
Kisah Fathimah az-Zahra (360 Fadhail mashaib wa Karamat-e Fatimaeh Zahra) ; Hal: 194-200 (420 halaman) ; Karya: Abbas Azizi
Penerbit; Penerbit Cahaya (Qorina)

Jl. Siaga Dharma VIII, no; 32E
Pasar Minggu-Jakarta Selatan
Telp: 021-7987771 (08121068423)
Fax: 021-7987633
Email; pentcahaya@centrin.net.id

Tawasul Nabi Zakaria as

Nabi Zakaria as memohon kepada Allah agar mengajarkan kepadanya nama2 lima orang suci. Malaikat Jibril as pun turun kepadanya dan mengajarkan nama2 itu. Setiap kali Nabi Zakaria as menyebutkan nam Muhammad, ali, Fathimah dan Hasan, kesedihannya pun hilang. Akan tetapi, ketika dia menyebut nama Husain, hatinya menjadi sedih dan menangis.
Nabi Zakaria: "Ya Allah, rahasia apakah yang tersembunyi? Setiap kali kusebut nam 4 orang suci, kesedihanku hilang dan pikiranku tenang. Namun, ketika kusebut nama Husain, aku menangis dan meratap?"
Allah mengabarkan kepadanya perihal peristiwa yang bakal menimpa al-Husain dan berfirman;
"Ka Ha Ya 'Ain Shad.
Kaf; Karbala (kota Karbala, Irak)
Ha; Halakal 'ithrah (terbantainya keluarga suci Nabi saw)
Ya; Yazid bin Mu'awiyah
'Ain; 'Athsyal Husain (dahaga al-Husain)
Shad; Shabruhu (kesabarannya al-Husain)."
Mendengar wahyu ini, Nabi Zakaria as tidak keluar masjidnya selama 3 hari dan memberikan perintah agar tak seorangpun datang menemuinya. Beliau menangis dan meratap. Ungkapan beliau dalam mengingat musibah itu adalah;
"Ya Allah, apakah mahluk termulia-Mu, putranya mengalami musibah seperti itu? Apakah musibah seperti ini yang bakal menimpa mereka? Apakah Ali dan Fathimah berduka cita seperti ini?
Ya Allah, karuniakan padaku seorang putra yang membahagiakan hatiku dimasa tuaku, serta jadikan dia sebagai pewaris dan penggantiku. Setelah Engkau karuniakan anak itu padaku, timpakan padaku musibah sebagaimana yang dialami oleh kekasih-Mu Muhammad sehubungan dengan putranya."
Allah menganugrahkan Nabi Yahya as kepada nabi Zakaria as. Diapun mengalami musibah kehilangan anaknya. Masa kehamilan Nabi Yahya as sama seperti kehamilan Imam Husain, 6 bulan.
Kisah Fathimah az-Zahra (360 Fadhail mashaib wa Karamat-e Fatimaeh Zahra) ; Hal: 412-414 (420 halaman) ; Karya: Abbas Azizi
Penerbit; Penerbit Cahaya (Qorina)

Jl. Siaga Dharma VIII, no; 32E
Pasar Minggu-Jakarta Selatan
Telp: 021-7987771 (08121068423)
Fax: 021-7987633
Email; pentcahaya@centrin.net.id

Selasa, 17 Juni 2008

Nama-nama Penghias Langit

Hari ini adalah hari kelahiran wanita suci, putri tercinta Rasulullah saw. 17 Juni 2008(11/12 Jumadil tsaniyyah 1429 H), dan oleh Rasul saw selalu disanjungnya sang putri dengan untaian kata yang mengandung makna tak tertandingi bagi insan yang mencoba memahaminya.
  1. Sayyidah ; pemuka wanita.
  2. Al-Insiyat haura' ; wanita bidadari.
  3. Al-Nuriyah ; wujud dari hakikat bercahaya.
  4. Al-Haniyyah ; wanita penyayang terhadap anak2nya.
  5. Al-'Adra' ; perawan.
  6. Al-Karimah ; wanita mulia.
  7. Al-Rahimah ; wanita pengasih.
  8. Al-Syahidah ; wanita yang mati syahid.
  9. Al-'Afifah ; wanita yang menjaga harga diri.
  10. Al-Qani'ah ; wanita yang merasa cukup.
  11. Al-Rasyidah ; wanita yang sempurna kedewasaannya.
  12. Al-Syarifah ; wanita agung.
  13. Al-Habibah ; kekasih.
  14. Al-Muharramah ; wanita suci yang dihormati.
  15. Al-Shabirah ; wanita yang penyabar; tabah.
  16. Al-Salimah ; wanita tanpa cacat dan kekurangan.
  17. Al-Mukarramah ; wanita yang dimuliakan.
  18. Al-Shafiyyah ; wanita suci.
  19. Al-Al-'Alimah ; wanita berilmu; berpengetahuan.
  20. Al-ma'shumah ; wanita yang terjaga dari kesalahan dan dosa.
  21. Al-Maghshubah ; wanita yang dirampas haknya.
  22. Al-Madhlumah ; wanita yang teraniaya.
  23. Al-Manshurah ; wanita yang beroleh pertolongan Allah.
  24. Al-Maimunah ; wanita penuh berkah.
  25. Al-muhtasyamah ; wanita terhormat.
  26. Al-Jamilah ; wanita cantik.
  27. Al-Jalilah ; wanita agung.
  28. Al-Mu'adhdhamah ; wanita yan diagungkan.
  29. Hamilat al-balwa bighairi syakwa ; wanita penanggung derita tanpa mengeluh.
  30. Halifat al-ibadah wa al-taqwa ; wanita yang sumpahnya adalah ibadah dan takwa.
  31. Habibatullahi ; kekasih Allah.
  32. Bint al-shafwah ; putri kekasih Allah.
  33. Rukn al-huda ; tonggak petunjuk.
  34. ayat al-nubuwwah ; tanda kenabian.
  35. Syafi'at al-ushat ; pemberi syafaat orang2 yang berbuat maksiat.
  36. Ummu al-khirah ; ibu orang2 baik.
  37. Tuffahat al-jannah ; apel surga.
  38. Al-Muthahharah ; wanita yang disucikan.
  39. Sayyidat al-nisa' ; penghulu kaum wanita.
  40. Bint al-mushthafa ; putri manusia pilihan.
  41. Shafwatu rabbiha ; wanita kekasih tuhannya.
  42. Mauthin al-huda ; tempat asal petunjuk.
  43. Qurratu 'ain al-mushthafa ; penggembira hati Rasulullah saw.
  44. Badh'at al-mushthafa ; bagian tubuh rasulullah saw.
  45. Mahajjatu qaib al-mushthafa ; darah kehidupan jantung Rasulullah saw.
  46. Baqiyyat al-mushthafa ; peninggalan Rasulullah saw.
  47. Al-Hakimah ; wanita bijaksana.
  48. Al-Fahimah ; wanita yang paham.
  49. Al-'Aqilah ; wanita yang berakal.
  50. Al-Mahzunah ; wanita yang bersedih hati.
  51. Al-Makrubah ; wanita yang sengsara.
  52. Al-'Alilah ; wanita yang menderita sakit.
  53. Al-'Abidah ; wanita ahli ibadah.
  54. Al-Zahidah ; wanita zuhud; tidak dikuasai dunia.
  55. Al-Qawwamah ; wanita yang menghidupkan malam dengan ibadah.
  56. Al-Bakiyah ; wanita yang sering menangis.
  57. Baqiyyat al-nubuwwah ; peninggalan kenabian.
  58. Al-Shawwamah ; wanita ahli puasa.
  59. Al-'Athufah ; wanita yang sangat pengasih dan penyayang.
  60. Al-Raufah ; wanita pengasih.
  61. Al-Hannanah ; wanita penyayang.
  62. Al-Barrah ; wanita yang berbakti.
  63. Al-Syafiqah ; wanita pengasih.
  64. Al-Annanah ; wanita yang meratap.
  65. Walidat al-sibtain ; ibu dua cucu nabi saw.
  66. Dauhat al-nabiyyu ; pohon nabi saw.
  67. Nur al-samawi ; cahaya langit.
  68. Zaujat al-washiy ; istri washi(Imam ali bin Abi Thalib).
  69. Badr al-tamam ; bulan purnama.
  70. Ghurrat al-gharra' ; wanita termulia diantara yang mulia.
  71. Ruhu abihi ; jiwa ayahnya.
  72. Durrat al-baidha' ; mutiara putih.
  73. Washithatu qiladati al-maujud ; perantara mata rantai keberadaan.
  74. Durratu bahri al-syarafi wal wujud ; mutiara lautan kemuliaan dan keberadaan.
  75. Waliyyatullahi ; kekasih Allah.
  76. Sirrullahi ; rahasia Allah.
  77. Aminat al-wahyi ; orang tepercaya pengemban wahyu ilahi.
  78. 'Ainullahi ; mata Allah.
  79. Makniyyatu fi lamis sama' ; wanita yang memiliki kedudukan dialam langit.
  80. jamal al-aba' ; keindahan bagi leluhur.
  81. Syaraf al-abna' ; kemuliaan dan kebangaan bagi anak2nya.
  82. Durratu bahr al-ilmi wal kamal ; mutiara lautan ilmu dan kesempurnaan.
  83. Jauharat al-izzati wa al-jalal ; permata kemuliaan dan keagungan.
  84. Quthbi ruhal mafakhir al-saniyyah ; pusat poros kebanggaan tertinggi.
  85. Majmu'at al-maatsir al-'aliyyah ; pengumpul peninggalan2 tertinggi.
  86. Misykatu nurillahi ; ceruk(lubang) cahaya ilahi.
  87. Al-Zujajah ; kaca yang menampung pelita cahaya ilahi.
  88. Ka'bat al-mal li ahlil hajah ; kabah harapan bagi orang2 yang membutuhkan.
  89. Lailat al-qadr ; malam al-qadr.
  90. Lailat al-mubarakah ; malam yang penuh berkah.
  91. Ibnatu man shallat bihil malaikah ; putri orang yang malaikat bershalawat padanya.
  92. Qararu qalbi ummih al-mu'adhdhamah ; orang yang menyejukkan hati ibunya.
  93. 'Aliyat al-mahal ; wanita yang tinggi kedudukannya.
  94. Sirr al-'adhamah ; rahasia keagungan.
  95. Maksurat al-dzil'un ; wanita yang patah tulang rusuknya(akibat tendangan Umar bin Khaththab ra.)
  96. Radhidh al-shadr ; wanita yang patah tulang dadanya.
  97. Maghshubat al-haq ; wanita yang haknya dirampas.
  98. Khafiyyat al-qabr ; wanita yang kuburnya tersembunyi.
  99. Majhulat al-qadr ; wanita yang tidak diketahui keutamaannya.
  100. Al-Mumtahanah ; wanita yang diuji.
  101. Al-Madhlumu zaujuha ; wanita yang suaminya tertindas.
  102. Al-Maqtulu waladuha ; wanita yang putranya terbunuh.
  103. Al-Kautsar ; wanita yang melahirkan banyak keturunan.
  104. Al-Muhaddatsah ; wanita yang diajak bicara para malaikat.
  105. Al-Zahra ; wanita yang dicipta dari keagungan Allah.
Kisah Fathimah az-Zahra (360 Fadhail mashaib wa Karamat-e Fatimaeh Zahra) ; Hal: 46-52 (420 halaman) ; Karya: Abbas Azizi
Penerbit; Penerbit Cahaya (Qorina)

Jl. Siaga Dharma VIII, no; 32E
Pasar Minggu-Jakarta Selatan
Telp: 021-7987771 (08121068423)
Fax: 021-7987633
Email; pentcahaya@centrin.net.id

Selasa, 10 Juni 2008

Mengajukan Hujah

"Ya Rabbi, kasihanilah kelemahan tubuhku, kelembutan kulitku, dan kerapuhan tulangku. Wahai Yang Mula-mula menciptakanku, menyebut dan mendidikku, memperlakukanku dengan baik, dan memberiku makanan, berikanlah aku karunia-Mu, karena Engkau telah mendahuluiku dengan kebaikan-Mu kepadaku. Ya Ilahi, Tuanku, Pemeliharaku, apakah Engkau akan menyiksaku dengan api-Mu setelah aku mengesakan-Mu, setelah hatiku tenggelam dalam makrifat-Mu, setelah lidahku tergetar menyebut-Mu, setelah jantungku terikat dengan cinta-Mu, dan setelah segala ketulusan pengakuanku dan permohonanku seraya tunduk bersimpuh pada ketuhanan-Mu? Tidak, Engkau terlalu mulia untuk mencampakkan orang yang Engkau pelihara, atau menjauhkan orang yang Engkau dekatkan, atau menyiksa orang yang Engkau naungi, atau menjatuhkan pada bencana orang yang engkau cukupi dan sayangi."
Penafsiran Etimologis
Kata diqqah dan riqqah memiliki arti lembut, dan keduanya memiliki arti yang sama. Pengungkapannya dalam kalimat ini adalah sebagai suatu bentuk keindahan.
Kata inthiwa memiliki arti saling terikat. Kata lahjah adalah gerakan lidah. Kata haihat adalah isim fi`il yang memiliki arti menjauhlah. Kata syarid memiliki arti melarikan diri sedangkan kata tasyrid memiliki arti berlari menuju seseorang.
Syarah dan Penjelasan
Dalam kalimat doa ini sang pendoa memiliki dua sudut pandang; pertama, "Ya Rabbi, kasihanlah kelemahan tubuhku, kelembutan kulitku, da kerapuhan tulangku." Disini, ia merasa sangat bersalah dan sangat kurang dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dari lubuk hati yang amat dalam, ia memohon sesuatu dari-Nya, ia mengakui bahwa dirinya adalah seorang hamba yang harus tunduk dan patuh kepada Tuannya, seraya berkata,
"setelah segala ketulusan pengakuanku dan permohonanku seraya tunduk bersimpuh pada ketuhanan-Mu."
Kedua, sisi satunya memiliki kekuatan dan kemampuan yang tidak ada taranya. Sebab, ia adalah seorang yang mengakui keberadaan Allah yang Mahaesa, mencintai-Nya, dan senantiasa berada dalam lindungan dan peliharaan-Nya.
Dalam doa ini, Zat yang dipinta(mad`uw) adalah Tuhan Sang Pencipta dan Pemelihara yang amat pemurah, yang karunia-Nya senantiasa tercurah kepada mahluk-Nya.
"Wahai Yang Mula-mula menciptakanku, menyebut dan mendidikku, memperlakukanku dengan baik, dan memberiku makanan, berikanlah aku karunia-Mu, karena Engkau telah mendahuluiku dengan kebaikan-Mu kepadaku."
Sementara, sesuatu yang dijadikan sebagai mad`uwun bihi(sumpah dalam berdoa) adalah karunia dan kebaikan. dalam doa ini, ia bersumpah demi karunia dan kebikan-Nya yang senantiasa tercurah. Sedangkan mad`uwun minhu(permohonan agar dihindarkan) dalam doa ini adalah permohonan agar dibebaskan dari api neraka dan siksaan yang pedih.
Disela2 doa ini, beliau juga mengeluarkan argumentasi untuk menegaskan bahwa beliau amat mengharapkan pengampunan dan pembebasan dari api neraka. Dan kalimat tersebut berbentuk pertanyaan yang negatif. Argumen tersebut merupakan hjah bahwa tidak mungkin dapat menjauh dari-Nya.
"Apakah Engkau akan menyiksaku dengan api-Mu setelah aku mengesakan-Mu, setelah hatiku tenggelam dalam makrifat-Mu, setelah lidahku tergetar menyebut-Mu, setelah jantungku terikat dengan cinta-Mu, dan setelah segala ketulusan pengakuanku dan permohonanku seraya tunduk bersimpuh pada ketuhanan-Mu? Tidak, Engkau terlalu mulia untuk mencampakkan orang yang Engkau pelihara, atau menjauhkan orang yang Engkau dekatkan, atau menyiksa orang yang Engkau naungi, atau menjatuhkan pada bencana orang yang engkau cukupi dan sayangi."
Dalil dan argumen semacam ini bukan dalail dan argumen milik para filsuf atau ahli ushul fiqh, tetapi merupakan dan argumen yang datangnya dari sang perindu kepada sang Kekasih dan dalail seorang arif dalam mengenal al-Haq.
Oleh karena itu, ungkapan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib pada bagian doa ini adalah, sebagaimana beliau nyatakan, bahwa beliau tengah merindu. Dalil dan argumen atas rasa rindunya itu berbentuk pertanyaan negatif, dan ini merupakan dalil dan argumen yang amat elok.
Sementara, "mengajukan argumen" terkadang adalah untuk menetapkan kebenaran pendapat, dan lawan harus mengakui kebenarannya. Ini adalah jenis argumen yang digunakan dalam filsafat dan fikih, serta berbagai cabang ilmu lainnya. Terkadang pula "mengajukan argumen" berarti sesuatu yang disukai oleh citarasa(dzauq). Dan, apa yang tidak diterima oleh akal, citarasa akan menerimanya. Dalam hal ini, rasio dan akal memang sangatlah lemah;
Kaki kaum rasionalis terbuat dari kayu
Kaki kayu amatlah rapuh
Dalam hal ini, jika lawan bicaranya adalah seorang yang memiliki citarasa, maka ia kaan menerimanya. Namun, jika lawan bicaranya menggunakan argumen rasional semata maka ia harus keluar dari arena kerinduan kepada Allah.
Sementara, pandangan lain menyatakan bahwa hjah dan argumen semacam ini adalah sarana kembalinya seorang hamba kepada Tuannya. Karenanya, ini adalah sebaik2 bentuk tobat kepada Allah, dengannya seluruh dosa2 akan berguguran serta memperoleh ampunan-Nya.
"Katakanlah, 'Hai hamba-hamb-Ku yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. sesungguhnya, Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (az-Zumar: 53)
Tak dapat disangkal, isi doa ini mengaskan bahwa seorang yang meyakii tauhid dan mengenal Allah akan dimasukkan kedalam surga dan tidak mungkn dijerumuskan kedalam neraka.
Ada sebagian orang yang mengira bahwa seseorang yang memiliki keyaknan terhadap tauhid, mengenal Allah, dan memiliki kecintaan kepada rasul saw dan keluarganya, akan dimasukkan kedalam surga, apapun perbuatan yang dilakukannya. Dalam hal ini, mereka berpegang pada sabda Rasulullah saw,
"Cinta kepada Ali adalah kebaikan dan tidak akan dirusak oleh keburukan apapun yang menyertainya."
Dari berbagai riwayat, dapat diketahui secara jelas bahwa prasangka semacam itu juga menghinggapi sahabat Ali. Karenanya, Muhammad bin Marid meriwayatkan;
Muhammad: "Jika engkau telah mengenali maka berbuatlah sesukamu."
Imam: "Ya saya telah mengatakannya."
Muhammad: "Apakah sekalipun ia berzina, mencuri dan minum2an keras?"
Imam: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Demi Allah, sungguh mereka berbuat tidak adil terhadap kami(ahlul bait), dimana, kami yang mendapatkan sanksi berbagai amal perbuatan buruk itu dan mereka terbebas. sesungguhnya, saya mengatakan bahwa 'Jika engkau telah mengenali maka berbuatlah sesukamu' maksudnya adalah perbuatan baik, yang kecil maupun yang besar. Sebab, sesungguhnya itu akan diterima oleh allah."
Keyakinan yang salah ini merupakan bahaya yang tersembunyi didlaam hati, dan pemilik keyaknan seacam ini akan cenderung meremehkan perbuatan dosa. Oleh karena itu, sebagaimana riwayat ini menolak bentuk keyakinan semacam itu, al-Quran dan riwayat lainnya juga menolak bentuk pandangan dan keyakinan menyimpang itu.
"Tahukah kamuorang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yakni orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya' dan enggan menolong dengan barang yang berguna." (al-Ma'un)
"...berada didalam surga mereka saling bertanya, tentang keadaan orang-orang yang berdosa, 'Apaakh yang memasukkan kamu kedalam saqar?' Mereka menjawab, 'Kami dahulutidak termasuk orang-orang mengerjakan shalat, dan kami tidak pula memberi makan orang miskin, dan kami membicarakan yang batil bersama dengan orang-orang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat." (al-Mudatstsir: 40-48)
"Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya baginya neraka Jahanam, mereka kekal didalamnya selama-lamanya." (al-Jin: 23)
"Bukan dari golonganku seorang yang meremehkan shalat, dan ia tidak akan masuk ke Kautsar, demi Allah, tidak akan." (al-Hadis)
Ali bin Husain(Imam ke-4) sedang thawaf dengan sambi menangis hebat sehingga beliau menjadi lemah, lunglai dan pingsan. Ketika Thawus al-Yamani akan mengangkat kepala Ali bin Husain, beliau menolaknya.
Thawus: "Wahai tuanku, anda adalah putera dari al-husain, keturunan Fathimah, dan putera Rasulullah saw, kenapa anda hal demikian?"
Imam: "Tidak, tidak wahai Thawus! Janganlah anda membicarakan ayah, ibu, dan kakek saya. Allah menciptakan surga bagi yang taat kepada-Nya dan berbuat baik, sekalipun ia adalah seorang hama sahaya dari Habasyah. Dan Dia menciptakan neraka bagi siapa yang menentang-Nya, sekalipun ia adalah seorang keturunan Qurais. Tidakkah anda mendengar firman-Nya?
"Apabila sangkakala ditiup maka tidak ada lagi pertalian nasab diantara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka salig bertanya." (al-Mukminun: 101)
Demi Allah, pada hari itu tidak ada yang memberikan manfaat kepada anda, melainkan amal salih yang pernah anda kerjakan..."
Menggali Rahasia Doa Nabi Khidir(Syarh-e wa Tafsir-e Dua-ye Kumail), hal: 161-169(363 halaman), karya: Allamah Husain Mazhahiri
Penerbit; Penerbit Cahaya
Jl. Siaga Dharma VIII, no; 32E
Pasar Minggu-Jakarta Selatan
Telp: 021-7987771 (08121068423)
Fax: 021-7987633
Email; pentcahaya@cbn.net.id

Sabtu, 07 Juni 2008

Jenis Gangguan Jiwa

Gangguan jiwa dibagi menjadi 4 bagian, yang masing2 bagian itu khusus pada sekelompok manusia. Gangguan2 jiwa itu pada setiap bagiannya memiliki suatu bentuk tertentu dalam mengungkap tentang dirinya dengan perilaku dan tindakan2nya.
Pertama; Sekelompok orang yang terkena gangguan2, yang dalam kehidupannya mengambil gangguan jiwa sebagai suatu tabiat yang bersifat vertikal, yaitu gangguan itu melebur dan berubah menjadi pendorong untuk suatu aktifitas pengecualian dan kegiatan yang besar, serta memotivasi istiqomah, kesabaran dan kedermawanan.
Seputar ini dikatakan bahwa tokoh2 terkemuka dunia termasuk dalam kelompok ini. Mereka adalah orang2 yang terkena gangguan2, namun mereka meruntuhakan gangguan2 itu dengan kedermawanan dan kepandaian. Demikian dikatakan terhadap Pasteur, Newton, dan Einstein yang menceritakan masa kecilnya;
Ia pergi ke sekolah dengan kaki telanjang dan ia senang anak yang malas dan gagal dalam pelajaran2nya, sehingga sering menjadi sasaran kemarahan guru2nya. Tetapi setelah ia dewasa, gangguan jiwanya meluap kearah pekerjaan yang konsisten, kesabaran dan ketabahan yang menjadikannya sebagai salah seorang tokoh terkemuka dunia.
Walaupun jenis gangguan jiwa ini mengubah individunya menjadi tokoh terkemuka, namun hal ini amatlah jarang. Mungkin tidak sampai satu banding satu juta manusia, yang mampu terkena gangguan jiwa dan kesulitan2 mereka yang meledak secara vertikal.
Kedua; Terdapat gangguan2 yang tidak meledak secara vertikal, tetapi ia melebur dan lenyap dengan berlalunya waktu, pengaruh pendidikan yang benar dan guru yang menasihati serta lingkungan yang sehat.
Dalam hal ini gangguan itu menyerupai orang yang menderita penyakit bisul atau terkena kotoran2 pada salah satu tempat dari tubuhnya, lalu ia sengaja menggunakan antibiotik yang mengeringkan nanah dan mematikannya. Dalam kondisi ini seorang anak yang terganggu jiwanya membutuhkan seorang guru pendidik yang mengerti dan lemah lembut, yang mampu melenyapkan gangguan itu. Atau orang tuanya melakukan introspeksi atas kesalahannya dan mulai memperbaikinya dna mengembalikan pendidikan anak itu atas dasar2 yang benar. Perkara ini berubah tidak melalui ledakan gangguan itu, namun lenyap dan melebur secara keselurhan.
Ketiga; Gangguan jiwa pada jenis ini memiliki bentuk2 yang membahayakan, dimana ledakannya terkadang menyebabkan kegilaan yang menutupinya.
Pada kelompok ini gangguan jiwa meledak dengna ledakan yang menggoncang keras, yang akan menyebabkan lemah saraf, dan pada suatu periode menyebabkan dirinya menyendiri dan mencela diri sendiri serta mengikuti kepedihan dan kesedihannya, sehingga akan menyebabkan kegilaan. Oleh karena itu terlihat bila kondisi2 kegilaan yang menutupi, biasanya timbul dari ledakan dari gangguan jiwa dalam bentuk goncangan yang keras dan tajam.
Orang yang secara berlanjut tertimpa kemiskinan, kebutuhan dan penolakan atau orag tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tuanya, terkadang gangguan jiwanya mengantarnya kepada kegilaan. Keadaan ini jarang sekali,meskipun berbahaya.
Keempat; Kebanyakan gangguan2 jiwa muncul dengan cara2 biasa. Keadaan ini meliputi sekitar 90% orang2 yang terganggu jiwanya. Diantara bentuk2nya adalah apa yang terlihat pada kelakuan pemuda yang berbuat kurang ajar kepada orang tuanya dan membantah mereka, sehingga kelakuan dan pembicaraannya selalu menyakiti dan tidak bisa sejalan dengan kebiasaan dan tradisi masyarakatnya.
Demikian pula yang terlihat pada kelakuan anak perempuan yang lemah, yang tidak sesuai untuk sebuah rumah tangga yang sukses. Ia tidak mampu mengurus suami dan anak2nya atau tidak cocok dengan ibu mertuanya dan kerabat2nya, serta secara umum tidak dapat cocok dengan masyarakatnya.
Diantara fenomena2 yang terlihat pada kelakuan orang2 yang mendapat gangguan jiwa dari kelompok ini, adalah akhlak yang buruk yang terlihat pada sebagian mereka. Apabila ia seorang pekerja atau pedagang, maka ia tidak mampu untuk menarik pembeli.
Dan terrmasuk bentuk2 lain yang tampak pada kelakuan orang2 yang terganggu jiwanya dari kelompok ini adalah kecenderungan mereka untuk mempertontonkan diri mereka dan mengalihkan pandangan masyarakat kepada mereka, walaupun hal itu dengan tindakan2 yang ganjil. Hal itu tampak pada kehidupan kaum Hippis dan masyarakat2 lainnya yang berlaku ganjil dalam bentuk pakaian mereka dan cara mengatur rambut kepala mereka, serta cat2 yang ditempelkan pada wajah2 mereka dan bentuk2 yang tergambar pada tubuh2 mereka.
Kelakuan seperti ini menunjukkan adanya suatu gangguan, disebabkan orang yang bersangkutan tidak menemukan kemanjaan dan kasih sayang yang cukup pada awal masa kecilnya. Lantaran itu ia mencoba mengganti apa yang telah berlalu dengan menarik perhatian orang kepadanya melalui tindakan2nya. Apabila orang yang terganggu jiwanya ini seorang gadis remaja yang baru tumbuh, maka persoalannya akan berbahaya baginya. Senyuman yang menipu mungkin akan menjerumuskan kejalan penyelewengan.
Kadang ada seorag anak yatim, namun ia sopan, rajin dan tidak lemah. Hal ini dikarenakan ia mampu mengubah kesulitan atas wafatnya kedua orang tua menjadi dorongan untuk berbuat, seperti sebagian mereka yang mengubah kesulitannya menjadi dorongan untuk sukses, mencari harta dan memperoleh kekayaan. Sebagian mereka mengubahnya menjadi dorongan untuk meraih ilmu dan kepandaian, sebagian mengubahnya menjadi menjadi dorongan untuk tetap teguh dan berkepribadian kuat.
Kesimpulan:
Pertama; Seorang yang menyendiri,memiliki hati yang mati, tidak dapat bergaul dengan masyarakat dan berinteraksi dengan mereka, selalu menyalahkan dan mencela dirinya. Jika ia bebas dari pengaruh2 teman tidak baik. Orang seperti itu akan terisolir dari masyarakat dan terlempar oleh gerak kehidupan. Apabila ia seorang laki2 maka ia tidak mampu untuk melaksanakan hak2 istri dan anak2, dan jika ia seorang wanita, maka ia juga tidak dapat menjalankan tugas2 mengurus suami, rumah tangga dan anak2. Dari liku2 yang berbahaya ini, timbul banyak perceraian.
Kedua; Diantara orang2 yang terganggu jiwanya adalah mereka yang jatuh sebagai korban teman yang jahat, sehingga kenikamatan hidup padanya berubah menjadi membuang2 waktu dengan duduk dijalan2, warung kopi, dan tempat2 para pengangguran. Mereka menghabiskan waktu dengan tertawa dan obrolan kosong, mengembara kesana kemari dan tidak kembali kerumah, kecuali setelah larut malam. Ia sendiri senang, bila orang lain berkata, "Mengherankan, ia sangat tidak peduli."
Pintar Mendidik Anak(Tarbiyyah ath-Thifl fi ar-Ru'yah al-Islamiyyah), Hal: 141-145(344 halaman), karya: Husain Mazhahiri
Penerbit Lentera
Jl. Mesjid Abidin, no:15/25 jakarta 13430
Email: pentera@cbn.net.id